11 May 2026
admin@webma.com
Tulisan siswa
Kata ‘Jihad’ sudah tidak asing di telinga umat muslim. Sejak kecil, kata ini sering didengungkan, beriringan dengan harapan akan kebaikan yang lahir dari perjuangan umat untuk negara, bangsa, dan agama. Namun, tak dapat dimungkiri bahwa masih banyak yang belum memahami esensi dari Jihad itu sendiri. Sebenarnya, apa itu jihad? Apakah benar jika maknanya hanya bisa dikaitkan dengan perang dan kekerasan?
Menurut Abdurrahman bin Hamad Ali Imran, jihad terbagi dua, yaitu dalam pengertian umum dan khusus. Jihad dalam pengertian umum adalah seorang muslim bersungguh-sungguh dalam menggapai sesuatu yang bisa mendekatkan dirinya kepada Allah, serta menjauhkan diri dari apa saja yang dilarang oleh-Nya. Adapun dalam pengertian khusus adalah memerangi kaum kafir dalam rangka menegakkan kalimatullah yaitu syariat Allah Swt. Maka, dengan merujuk pada arti umum, berjihad dapat dilakukan di zaman modern sesuai dengan jalan yang ingin ditempuh seorang muslim dan diyakininya akan mendekatkan diri pada Allah.
Jalan yang dapat ditempuh seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak hanya satu, bahkan tidak terbatas pada ibadah ritual. Namun, bisa juga lewat hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya Ahmad Syafi’i Maarif, yang kerap dikenal sebagai Buya Syafi’i. Beliau menggunakan pena dan kertas sebagai jalan jihad dalam menyampaikan pemikirannya untuk kebaikan. Salah satu yang menarik adalah bagaimana beliau menyikapi persoalan hubungan trilogi antara Islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Menurutnya ketiga konsepsi tersebut haruslah senapas dan seirama agar Islam yang berkembang di Indonesia adalah benar-benar Islam yang berkemajuan, ramah, terbuka, dan rahmatan lil ‘alamin. Salah satu karya beliau yang fenomenal adalah Islam dalam Bingkai Keindonesian dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Berbeda dengan Buya Syafi’i dan tulisan-tulisannya yang kritis serta berani, Dr. Salmah Orbayyinah memilih sains sebagai jalan jihadnya. Aktif sebagai dosen di Prodi Farmasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), beliau mengajar mata kuliah Kimia Organik, Kimia Analisis, dan Biokimia. Mengutip situs resmi UMY, melalui ilmunya beliau melakukan sejumlah penelitian, antara lain Isolasi Protein dan DNA Babi (Mitokondria dan Whole Genome) untuk Autentikasi Halal Produk Pangan dan Potensi Daun Binahong (Anredera cordifolia (Tenore) steenis) sebagai Antidiabetes dan Antihiperlipidemia. Beliau juga aktif dalam memberdayakan masyarakat, salah satunya melalui tema “Peningkatan Kualitas dan Keberkahan Hidup Melalui Gaya Hidup Halal” yang dimuat dalam Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat (2021). Dr. Salmah menunjukkan bahwa sains dan agama bukanlah dua hal yang harus dipisahkan, sama seperti Buya Syafi’i yang menunjukkan bahwa beragama dan bernegara bukanlah dua urusan yang dijalankan secara terpisah. Keduanya berjihad dengan cara masing masing untuk mengembalikan pandangan sosial akan agama yang seharusnya dijalankan bersama dalam keseharian dan tidak memberi batasan untuk urusan keduanya. Kedua sosok inspiratif itu dapat menjadi role model bagi kaum muda untuk memulai jihad mereka lewat jalan mana pun yang mereka sukai selama itu tidak menjauhkannya dari syariat Allah, melainkan menjadi jembatan yang dapat menjaga kedekatan dan ketaatan pada-Nya.
Referensi :
• Abdul Malik Mubarok, "Profil Salmah Orbayinah, Ketua Umum PP Aisyiyah Kedua yang Namanya Tak Berawalan Siti", Sindonews.com, 2022.
• Maimunah, “Jihad: Pendekatan Teologi,” Rumah Moderasi Beragama UINSI Samarinda, 2023.
• Rahma Harbani, "Sederet Buku Karya Buya Syafii, Guru Bangsa yang Wafat Hari Ini", detik.com, 2022.
• Shofan, M. (2023). JALAN KEBUDAYAAN AHMAD SYAFII MAARIF Dakwah Kultural, Puisi Kebangsaan dan Inspirasi Kemanusiaan. MAARIF, Vol. 18, 5-6.
• Situs Resmi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (amy.ac.id)